Our Rohingya

Sekelumit berita beredar di dunia maya, ya berita tentang “hitler” baru yang melakukan genosida suatu suku tanpa bisa dicegah oleh dewan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Sampai hari ini tidak banyak yang berbuat atas perlakuan diskriminasi etnis yang terjadi di Myanmar, bahkan peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi dianggap mendukung pembantaian tersebut tanpa bersuara untuk menentang.

Ribuan suara dari seluruh dunia mengencam tindakan diskriminasi ras tersebut, sampai akhirnya Turki mengecam dan mengancam akan mengirim pasukan khusus untuk memburu otak dari pembantaian ras yaitu Biksu Ashin Wirathu. Hal lucu muncul ketika Indonesia yang dalam politik luar negerinya bebas aktif tidak bisa (tidak mau) bertindak untuk menghentikan pembantaian ras Rohingya di Myanmar malah cederung terjadi pembiaran.

Jika Indonesia mau bertindak dengan politik bebas aktifnya dengan kesadaran dan hati yang bersih, mintalah dubes myanmar untuk menjawab atas yang terjadi di myanmar, jika tidak ada itikad baik untuk menghentikan dan menghukum para teroris “botak” tersebut maka layaknya Bapak Presiden kita yang terhormat mengusir Dubes Myanmar dari Bumi Indonesia dan memutus semua hubungan diplomatik sebagai bentuk protes.

Baca Juga :   Pernyataan Hoax Yang Sebenarnya Hoax Membuat Resah

Saya teringat sebuah hadist :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]

Sudah sepantasnya kita merasakan sakit, atas pembantaian yang mereka lakukan kepada muslim rohingya. Sudah sepantasnya kita merasa geram atas perlakuan mereka terhadap muslim rohingya. Maka, jika tidak ada rasa geram dan sakit atas pembantaian yang kita saksikan di Rohingya, mari pertanyakan kembali dimana iman kita berada? apakah hanya berada di ktp kita?.

Sudah kewajiban kita selaku saudara seiman untuk membantu mereka dengan segenap kemampuan, dan jangan sampai terputus doa-doa memohon pertolongan Allah atas muslim Rohingya.

Baca Juga :   Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta Disayang

قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. رواه مسلم

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)

Panjangkan malam-malam kita dengan munajat kepada Allah SWT dengan doa, doakan saudara di Rohingya dalam Qunut-Qunut Nazilah kita. Semoga tangan-tangan kita yang tidak mampu menggenggam tangan-tangan Saudara muslim kita di Rohingya, tapi doa kita sampai kepada mereka, menghujam di bumi Myanmar dan meninggikan Agama Allah di Bumi tersebut.