Gerhana Supermoon Akan Terjadi Kembali di Bulan Januari 2018

“Kami melihat semua matahari terbit dan terbenam pada saat itu tercermin di permukaan bulan,” ungkap Sarah Noble, ilmuwan program di markas NASA dikutip dari Phys.org, Rabu (03/01/2018).

Sebelumnya pada tanggal 1 Januari 2018 penampakan Supermoon telah terjadi dan penampakan serupa akan terjadi kembali pada 31 Januari 2018. Yang Istimewa dalam penampakan Supermoon ini adalah, peristiwa kali ini belum pernah terjadi selama 150 tahun.

Hal tersebut dikarenakan tiga fenomena langka astronomi terjadi dalam satu hari bersamaan. Tiga fenomena astronomi tersebut antara lain  Supermoon, Blue Moon dan Gerhana Bulan.

Ketiga peristiwa tersebut akan menyebabkan fenomena yang disebut Gerhana Super Blue Blood Moon. Yang istimewanya lagi peristiwa ini akan terlihat dari Indonesia dan akan menjadi peristiwa yang bersejarah pada tahun ini.

Apa sih yang dimaksud Gerhana Super Blue Blood Moon itu???

Supermoon seperti yang sebelumnya telah muncul adalah peristiwa dimana posisi bulan dalam kondisi purnama dan orbitnya berada paling dekat dengan Bumi. hal ini tentu membuat bulan terlihat lebih besar dari pada penampakan bulan biasanya. selain penampakan Supermoon kedua kalinya dan kondisi bulan purnama kedua kalinya terjadi di bulan yang sama makan kondisi ini dikenal sebagai peristiwa Blue moon yang hanya terjadi 2,5 tahun sekali.

Baca Juga :   Sidang Penistaan Agama, Jaksa Minta Hakim Menolak Eksepsi Ahok

Puncak fenomena pada 31 Januari 2018 esok adalah terjadinya gerhana bulan total.

Pemandangan terbaik untuk menyaksikan gerhana tersebut adalah pada tengah malam di wilayah Asia Tengah dan Timur, Indonesia, Selandia Baru, dan Australia. Dibelahan dunia lain, seperti Alaska dan Hawai akan mendapatkan pemandangan gerhana tersebut secara sekilas.

Lalu bagaimana penampakan Gerhana Super Blue Blood Moon ini ?

Penampakan Gerhana bulan pada 31 Januari 2018 esok, cahaya bulan akan tersaring oleh atsmosfer dan saat ini cahaya biru memantuh dari bulan dan cahaya merah akan tercermin di bulan dan peristiwa Gerhana Bulan Kemerahan tersebut akan yang membuat Gerhana ini dikenal dengan Blood Moon.

Pada 31 Januari 2018 esok, sebuah supermoon seperti yang terjadi pada tahun baru kembali menyapa kita. Saat itu, bulan sedang purnama dan berada paling dekat dengan bumi di orbitnya.

Ini tentu membuat bulan lebih terlihat besar dan terang daripada biasanya.

Selain itu, karena purnama menampakkan dirinya dua kali dalam jangka waktu satu bulan maka fenomena ini dikenal sebagai blue moon atau bulan biru. Blue moon sendiri merupakan fenomena langka yang terjadi 2,5 tahun sekali.

Baca Juga :   Gus Solah Kecewa Atas Pendataan Ulama Oleh Polisi Di Jombang

Puncaknya, hari itu juga akan terjadi gerhana bulan total.

Pemandangan terbaik untuk gerhana bulan tersebut adalah pada tengah malam di wilayah Asia tengah dan timur, Indonesia, Selandia Baru, dan Australia. Di belahan dunia lain, Alaska dan Hawai akan mendapatkan sekilas pemandangan gerhana bulan ini.

Bagaimana rupa fenomena langka ini?

Saat terjadi gerhana bulan pada 31 Januari 2018 nanti, cahaya bulan akan tersaring oleh atmosfer. Saat itu, cahaya biru akan memantuh jauh dari bulan dan cahaya merah akan tercermin di bulan.

Gerhana bulan kemerahan tersebut akan membuatnya dijuluk sebagai blood moon atau bulan darah.

“Kami melihat semua matahari terbit dan terbenam pada saat itu tercermin di permukaan bulan,” ungkap Sarah Noble, ilmuwan program di markas NASA dikutip dari Phys.org, Rabu (03/01/2018).

Seberapa langka fenomena tersebut?

Dilansir dari Space.com, Senin (01/01/2018), gerhana total blue moon sebelumnya terjadi pada 31 Maret 1866.

Dengan kata lain, gerhana blue blood moon yang akan kita jumpai pada 31 Januari 2018 mendatang adalah yang pertama terjadi setelah 152 tahun.

Baca Juga :   Fraksi PKS Usul Memidanakan LGBT

Sumber : Kompas