Toleransi yang Tidak Toleran Merusak Keberagaman

Penistaan agama saat ini menjadi topik bahasan yang sangat menarik bahkan sampai Gubernur non Aktif Basuki Tjahaja Punama tersangkut kasus penistaan agama dan sudah di tetapkan menjadi tersangkanya. Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan kalimat yang dinilai sebagai bentuk penistaan agama Islam saat sedang dinas di kepulauan seribu.

Baca juga : Habib Riziek Shihab di Polisikan karena Cerama Surah Al-Ikhlas:3

Saat ini persidang terkait penistaan agama oleh Ahok sedang bergulir dan masyarakat menanti kepastian keputusan hakim atas kasus tersebut. Baru-baru ini tepatnya pada hari Senin (26/12/16) Habib Riziek Shihab dilaporkan ke polisi oleh Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) dengan dugaan penistaan agama kristen pada Ceramah agamanya di depan kaum muslimin di daerah Jakarta Timur. Pernyataan pada ceramah Habib Riziek Shihab yang menyebabkanya dilaporkan adalah saat Habib Riziek Shihab menjelaskan isi kandungan Surah Al-Ikhlas pada ayat ke 3, “lam yalid walam yulad yang artinya Tuhan Tidak beranak dan Tidak di peranakan ‘Kalau tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?’.

Baca Juga :   Ahok Di Tetapkan Sebagai Tersangka

Hal yang menurut saya lucu adalah, apakah jika seseorang pemuka agama menyampaikan apa yang terkandung dalam kitab Suci agamanya adalah hal yang melanggar hukum atau menistakan agama lain?. Teman-teman dari PP PMKRI menyatakan bahwa tuhan tidak beranak dan tidak diperanakan adalah hal yang membuat umat kristiani resah dan melanggar toleransi keberagaman di indonesia. Menurut saya sangatlah aneh seseorang dilarang menyampaikan kepada saudaranya seiman keyakinan agamanya, hal itu menurut saya sudah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2.

Jika masalah keyakinan “Tuhan tidak beranak dan diperanakan” menjadikan sebuah penistaan agama bagi saudara-saudara umat kristiani, maka Umat Islam pun bisa menuntut para pendeta umat kristiani yang meyakini Trinitas bahwa ada Tuhan Bapak, Putra (anak) dan Roh kudus, padalah umat Islam meyakini bahwa Allah itu Esa tidak beranak dan diperanakan. Oleh karena itu, jika kedua hal itu merupakan keyakinan masing-masing pihak mari saling bertoleransi dengan tidak mengusik ajaran umat lainnya, cukup dengan menjalankan Ibadah dan keyakinannya masing-masing. Sikap saling melaporkan hal-hal yang terkait kepercayaan umat tertentu bisa jadi malah menggambarkan sikap intoleran terhadap agama lainya yang di lindungi oleh Undang-Undang.

Baca Juga :   Aksi Bela Islam III, Bukti Persatuan dan Kecintaan NKRI

Baca juga : Al-Ikhlas Surah Sepertiga Al-Quran

Hal ini bisa menjadi berbeda jika umat selain muslim menyatakan bahwa ayat Al-Maidah ayat 51 tidak layak dipercaya sebagai Firman Tuhan, padahal hal tersebut merupakan keyakinan yang dilindungi oleh Undang-Undang. Maka, layaklah orang tersebut dilaporkan kepada pihak berwenang karena sudah meresahkan Umat Islam dan secara implisit melecehkan Kitab Suci Umat Islam. Berbeda dengan jika seorang pemuka agama Kristen yang mengajarkan trinitas kepada umat Kristiani itu bukanlah bentuk penistaan agama. Begitu juga jika Ulama Islam menyampaikan Ayat-Ayat Al-Quran yang diyakininya kepada jamaah umat Islam, bukanlah bentuk penistaan agama.

Jika toleransi merupakan hal yang kita harapkan, mari saling menjaga dan tidak saling menyakiti. Umat Islam tidak pernah memprotes jika saudara umat kristiani menjalankan Ibadahnya. Maka, seyogyaknya umat lainpun tidak memprotes umat Islam dalam menjalankan Ibadanya, termasuk mengumandangkan Azan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *