Pak Oye Pejuang Yang Gugur Di Aksi Damai 4 Nov 2016

Selamat Jalan Pejuang Al-Quran, Perjuanganmu telah mempermalukan jiwa-jiwa muda yang terlena. Perjuanganmu telah Mendorong semangat memperjuangkan Agama. Perjuangan serta pengorbananmu saat ini menjadi Trending di Berbagai Sanubari Umat Islam yang masih lurus.

M. Syachrie Oemar Yunan (65) atau Pak Oye panggilan akrabnya, meskipun usia sudah memaksanya untuk tidak beraktivitas berat namun, Beliau merupakan tokoh sepuh di RW 07 Binong Permai Kabupaten Tangerang yang sangat perhatian pada umat dan juga berprofesi sebagai guru mengaji. Pak Oye tinggal di rumah sederhana di Perumahan Binong Permai Blok F14 No. 24. Pak Oye dikenal sederhana, ramah, periang serta sangat bersemangat. Terbukti beliau aktif di mushola Bina Ihsani dan dikenal sebagai tokoh disana karena rajin mendrong pembinaan kaum Ibu serta Remaja. Pak Oye sangat bersemangat jika itu berhubungan dengan ibadah serta dakwah islam. Berikut Tuturan Istri Beliau :

Baca Juga  : Pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian Akan Proses Penistaan Agama Paling Lambat 2 Minggu

Malam sudah larut. Namun Hermalina, wanita paruh baya itu masih asyik menyetrika baju koko dan sorban putih yang akan digunakan suaminya, Syachrie Oemar Yunan (65). Pagi-pagi sekali ia akan berangkat mengikuti aksi damai Bela Islam menuntut keadilan bersama jutaan kaum muslimin lainnya di depan Istana negara. “Bapak sangat semangat sekali, sampai mengajak tetangga-tetangga untuk berjihad. Beliau menyebut aksi tanggal 4 November sebagai jihad,” kenang Hermalina.

Baca Juga :   Banjir Bandang Bima NTB Sudah Surut Tapi Masa Tanggap Darurat Di Perpanjang

Malam sebelumnya Pak Oye setelah ba’da isya aktif berkeliling kampung mengajak warga untuk ikut membela Islam Jumat 4 November 2016. Herlina tak kan pernah menyangka, malam itu akan menjadi malam terakhir bersama sang belahan jiwa.

Mengapa Syachri yang sudah sepuh, berusia lebih dari kepala 6 harus capek-capek ikut aksi damai ? “Kita ini membela al Qur’an dari si penista, jangan takut mati untuk membela kebenaran,” nasihat Syachrie bergebu-gebu kepada Hermalina yang terus terngiang-ngiang.

Syachrie yang berprofesi sebagai guru ngaji itu meninggal dunia diduga karena penyakit asma-nya kambuh. Tampak di rumah duka, suasana kesedihan mengiringi proses pemakaman Syachrie.

Baca Juga : Kronologis Aksi Damai 4 November 2016

Tak sedikit dari keluarga beserta kerabat serta para tetangga  mendatangi rumah tokoh agama di lingkungan tersebut.

“Memang ada riwayat asma, semalam Pak Syachrie sudah dibawa ke sini. Rencananya akan di makamkan di TPU Binong Permai,” ucap kerabat dekat Syachrie

Pak Oye berpesan kepada kerabat dekatnya Dede Winata, yang sampai sekarang masih diingat yaitu :

Baca Juga :   Our Rohingya

“Jika ada 1.000 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 100 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 10 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika hanya tersisa seorang yang berjihad, maka seorang itu adalah saya.”

Sumber : Kiblat.net